Waktunya Pindah dan Berbenah :)

Hello World,

Sudah lama sekali saya tidak menulis sesuatu di blog ini. Lantaran urusan pekerjaan dan persiapan ‘rumah baru’. Eits, apa tuh maksudnya? Yup, sekarang blog ini sudah saya pindahkan ke New Simfoni Kata . Terima kasih buat kalian semua yang selalu setia membaca setiap postingan saya. Yang mau cek ‘rumah baru’ saya, boleh kok. Silahkan berkunjung ke New Simfoni Kata  yaaaa.

See yaaa, Pals 🙂

Advertisements

Menghapus Kenangan

Seorang teman bertanya pada saya suatu ketika. Bagaimana cara menghapus kenangan? Hmm…pertanyaan yang sulit, bahkan saya pun belum menemukan jawabannya. Pertanyaan yang patut diajukan mungkin, “Bersediakah kamu menghapus kenangan?”

Setiap orang pasti memiliki kenangan, bersama orang tua, keluarga, teman bahkan kekasih. Tidak semua kenangan itu menyenangkan. Terkadang, ada kenangan yang dirasa pahit dan menyakitkan. Tapi mungkinkah kita bisa hidup tanpa kenangan?

Saya jadi ingat sebuah film yang pernah saya tonton, berjudul “Eternal Sunshine of the Spotless Mind“. Film yang diadaptasi dari Puisi berjudul Eloisa to Abelard karya Alexander Pope ini mengisahkan tentang sepasang kekasih yang memutuskan untuk menjalani proses penghapusan kenangan masing-masing ketika hubungan mereka mulai berakhir. Yang terjadi selama proses tersebut justru sebaliknya. Kenangan-kenangan yang pernah mereka alami justru menyembul dan mengembalikan romansa diantara mereka seperti dulu.

Lalu apakah yang akan kalian lakukan jika hal tersebut terjadi pada kalian -katakanlah, kehilangan kekasih-? Apakah kalian akan terkungkung dalam kesedihan mendalam yang tiada akhir, berharap hal itu tidak pernah terjadi? Atau akankah kalian memejamkan mata dan berharap saat membuka mata kembali keajaiban akan muncul layaknya cerita dongeng yang selalu berakhir happy ending?

Come on, this is not ‘Eternal Sunshine of the Spotless Mind’. This is the real life. Just stay calm and find new things to do that will keep you busy and not think about him/her. It might take a while, but be patient and stay strong, make them wonder why you are still smiling and happy.

Hal utama yang harus kamu lakukan adalah menerima kenyataan. Memang tidak mudah meyakinkan diri sendiri bahwa hubungan yang telah dibangun harus berakhir begitu saja. Tetapi membiarkan diri sendiri terjebak dalam unrealistic fantasies bahwa suatu saat mungkin kalian akan bersama lagi, juga bukan penyelesaian terbaik. Cobalah untuk menerima dengan lapang dada fakta bahwa hubungan itu telah dipertahankan sebaik mungkin, namun sayangnya tidak bisa berjalan sebagai mana yang diharapkan. Jadikan itu sebagai chapter lama yang sudah waktunya berakhir dan mulai membuka chapter baru lagi yang penuh dengan warna kehidupan baru.

Bagi sebagian besar orang, menjalani kehidupan after break up sama halnya bersahabat dengan a very painful time, terutama jika kamu adalah orang yang got dumped. Bayangan indah bahwa he/she and you are being together seketika pupus and the next thing you know, he/she just left you away. Tidak perduli sekuat apapun kamu mencoba untuk melupakan bahwa hal itu tidak pernah terjadi, itu akan selalu tidak pernah tidak terjadi. It just…ended. Kamu lantas akan berusaha untuk menghapus kenangan perpisahan itu dari kepalamu. But, deep inside your heart, I doubt you want to erase the role that memory plays in your life. Semakin kuat kamu berusaha menghapusnya dari ingatanmu, semakin kuat pula kenangan tentangnya tertanam di hatimu. Pada akhirnya, kamu harus mengakui satu kalimat, I can’t erase you.

Beberapa orang menanggapi patah hati dengan ‘mengalihkan’ perhatian pada orang lain yang ‘diyakini’ dapat membantu melupakan kesedihan karena ditinggalkan. Tapi yakinkah kalian hal itu akan berhasil memulihkan hati yang terluka? Yakinkah kalian hal itu tidak akan menambah daftar baru hati yang terluka lainnya? Mungkin ada juga sebagian orang lainnya yang merasa patah hati merupakan ‘akhir dunia’, sehingga menolak untuk membuka hati lagi. Bagi mereka, memulai sesuatu yang baru, sama saja dengan menapak di jalan terjal yang sama, penuh rintangan dan masih menakutkan, so they force theirself not to want it.

Cara terbaik untuk pemulihan akibat patah hati adalah mulai dengan fokus pada dirimu sendiri. Manfaatkan waktu untuk mengenal dirimu lagi sebelum kamu memulai hubungan baru dengan orang lain. Ketahui lebih dalam apa yang benar-benar kamu inginkan dan apa yang pantas kamu dapatkan. Pahami apa yang mungkin bisa kamu berikan pada orang lain dalam hubungan baru yang akan kamu jalankan. Saat kamu sudah yakin dengan apa yang ingin kamu beri dan terima dalam suatu hubungan, saat itulah kamu siap untuk mulai menemukan a new partner who will suit you well.

Lalu kembali ke pertanyaan awal. Bersediakah kamu menghapus kenangan? Apabila pertanyaan itu ditujukan kepada saya, dengan tegas saya akan menjawab tidak. Kenangan merupakan harta berharga yang tersimpan dalam kotak memori kita. Dengan kenangan, kita memiliki pengalaman beragam yang tidak bisa sama didapatkan  oleh semua orang. Kenangan yang menyakitkan malah kadang justru menjadi ‘senjata’ yang mampu menguatkan. Biarkan saja kenangan itu, bagaimanapun bentuknya, tersimpan dan bertumbuh bersamamu. Manfaatkan kelebihan-kelebihan yang dikandung kenangan tersebut untuk dijadikan pembelajaran dalam menghadapi kasus serupa yang mungkin akan terjadi di masa mendatang. Akan ada masanya kamu  mengenangnya, tersenyum, dan mengakui, “Saya beruntung pernah mengenalmu“.

The Forgotten Song

To love a person is to learn the song that is in their heart

And to sing it to them when they have forgotten

 

Dulu kita punya lagu
Yang kita lantunkan kala hati mulai beku
Dulu kita punya lagu
Yang kita mainkan saat hati mulai meragu

Tapi kini…
Mungkin kita lupa caranya bernyanyi
Mungkin kita kehilangan semua notasi
Mungkin kita lupa setiap bait yang tersaji

Layaknya musisi yang kehilangan partitur
Lagu kita sudah kehilangan struktur
Ketukan birama tak lagi sama
Dentingan piano tak lagi senada
Petikan gitar mulai sumbang
Tempo pun tiada berimbang
Dinamika mulai kacau
Tak ubahnya suara yang kian parau

Kau tak mengerti laguku seperti aku tak mengerti lagumu
Tapi kita tak perduli, karena lagu kita sudah mati
Kita sudah berhenti bernyanyi, seperti hati kita yang berhenti berbagi
Kita tetap tak perduli, karena hasrat itu sudah pergi

Sweet Moments Last Longer

Will you remember me the way I remember you?
Will you be the same?
The last time I saw you, you are the sweetest
Every moment with you is the sweetest one…


Malam ini pertama kalinya saya lihat iklan sebuah produk pemanis buatan di televisi. Iklan sederhana yang menampilkan kenangan masa kecil yang long lasting. Saya akui, saya setuju sekali dengan konsep iklan ini. Kenangan yang manis tentu akan bertahan lama dan selalu dikenang. Terutama kenangan akan masa kanak-kanak yang penuh keceriaan. Tak perduli kejadian pahit apapun yang terjadi di kehidupan setelahnya, kenangan pahit itu akan segera terlupakan, tetapi kenangan manis akan selalu tinggal dan menyisakan senyuman.

Saya jadi ingat teman masa kecil saya. Tetangga di dekat rumah, yang selalu menjadi teman bermain saya. Teman mengerjakan pe-er, teman belajar, teman membuat robot-robotan, teman menonton film kartun, teman bermain games, teman tertawa.. Meskipun kami berbeda usia dan gender, hal itu tidak menghalangi keakraban di antara kami. Pertemanan itu sempat terhenti ketika dia sekeluarga memutuskan pindah ke kota yang berbeda. Tapi kemudian pertemanan itu terjalin lagi ketika (tanpa sengaja) kami bertemu kembali saat sama-sama menempuh pendidikan tingkat tinggi di ibukota. Hanya saja, pertemanan itu tidak lagi menyisakan kesan yang sama, karena usia dan pengalaman hidup telah merubah pola pikir kami berdua. Ada egois dan emosi yang membatasi saling pengertian di antara kami.

Kini, saya tidak tahu bagaimana kabarnya. Terakhir yang saya tahu, dia dipindahtugaskan ke luar ibukota. Wahai teman masa kecil, di manapun dan bagaimana pun dirimu saat ini, kenangan masa kecil kita tetap the sweetest one..

Wajah-wajah dalam Kereta

Mulai bulan ini, saya resmi mengubah status dari (mantan) mahasisiwi menjadi karyawati. Mengingat jarak dari Depok ke Gondangdia cukup menyita waktu dan tenaga, praktis saya beralih dari pengguna sepeda motor menjadi pengguna kereta listrik. Dan ternyata menumpang kereta listrik itu menyenangkan. Selain karena jarak tempuh yang seharusnya dua jam dengan sepeda motor bisa dipangkas menjadi satu jam saja, saya juga tidak perlu repot-repot bermacet-macet ria dengan segala polusinya.

Sebagai penumpang wanita yang menginginkan kenyamanan, saya memilih gerbong khusus wanita yang disediakan kereta listrik ekonomi ac maupun ekspress. Dan dari sanalah semua cerita dalam tulisan ini berasal. Beberapa hal yang saya amati selama hampir sebulan ini mengantarkan saya pada satu kesimpulan pribadi: wanita itu lebih egois daripada pria. (Baiklah, saya siap diamuk semua wanita yang membaca tulisan ini). Tidak bermaksud menghakimi, tetapi memang begitu kenyataan yang saya temui.

Misalnya saat hendak naik kereta, para wanita tidak segan saling sikut untuk ‘menyingkirkan’ penumpang wanita lain agar mendapatkan tempat yang paling nyaman untuk dirinya sendiri, tanpa memikirkan mungkin ada yang tersakiti karena tindakannya tersebut. Bahkan pernah seorang Ibu tua terdorong keluar gerbong kereta saat seorang wanita muda memaksa masuk, dan bukannya meminta maaf, wanita muda tersebut malah menertawakan kemalangan Ibu tua itu bersama teman wanitanya. Contoh lain, meskipun kereta sudah penuh sesak, para wanita tidak segan duduk di atas kursi lipatnya, membuat kapasitas penumpang menjadi semakin terbatas dan berhimpitan, meskipun sudah ada peringatan keras yang tertempel di dinding kereta bahwa dilarang menggunakan kursi lipat. Masih contoh lain, kebanyakan penumpang wanita tidak mau mengalah demi orang tua, ibu hamil atau ibu dengan anak-anak. Meskipun sudah ditegur oleh petugas gerbong, beberapa penumpang wanita bahkan akan (sengaja) ‘tertidur’ atau (pura-pura) tidak mendengar karena telinganya dijejali earphone dari pemutar musik. Yang paling nyata kerap terjadi adalah, saat seorang penumpang yang kebagian tempat duduk hendak turun di sebuah stasiun, maka banyak pasang mata akan mengawasi dan dimulailah ‘pasang badan’ untuk menggantikan posisi penumpang yang hendak turun tersebut, sehingga akan terjadi aksi rebutan yang dramatis, meskipun ada Orang tua atau Ibu hamil yang lebih layak didahulukan. Kebanyakan komentar yang saya dengar dari sesama wanita pengguna kereta adalah: “kalo’ lagi hamil atau udah tua ga kuat berdiri, mending naik di gerbong campur aja deh. Kalo’ di gerbong wanita ga bakal dikasih duduk. Pasti pura-pura tidur atau sibuk dengerin lagu semua”.

Pada dasarnya, kejadian-kejadian di atas hanya dilakukan oleh segelintir orang saja, namun sudah ‘terlanjur’ digeneralisasikan oleh masyarakat penumpang kereta listrik. Sebagai wanita, saya sangat ‘tergelitik’ dengan komentar-komentar negatif tentang hal ini. Memang tidak bisa menyalahkan wanita sepenuhnya. Kondisi jumlah rangkaian kereta yang sedikit dengan jeda waktu yang lumayan panjang sementara jumlah penumpang melebihi kapasitas, didukung pula dengan maraknya tingkat pencopetan dan pelecehan seksual di gerbong kereta ekonomi maupun gerbong campuran, tentu menjadi faktor kuat penyebab ‘krisis manusiawi’ di dalam gerbong. Tetapi ada baiknya kita melihat lagi ke dalam hati kita, masihkah ada kata ‘perduli’ di dalam situ?

Just a Blink of an Eye

Beberapa hari ini topik pembicaraan kita diramaikan tema seputar ‘Supermoon’. Bukan hanya sekedar bulan, tetapi bulan yang luar biasa, baik dari segi ukuran, maupun keindahan sinar yang dipancarkannya. Keindahan yang dipuja banyak pasang mata yang menyaksikan fenomena alam tersebut. Tapi adakah di antara kita yang menyadari bahwa keindahan itu hanyalah semu? Semu karena bulan memang tidak memancarkan cahaya sendiri. Bulan adalah salah satu benda langit yang memantulkan cahaya matahari. Ada pulakah di antara kita yang menyadari bahwa keindahan itu hanya sementara? Sementara karena cahaya bulan akan tergantikan kilau matahari saat fajar menjelang. Sementara karena bulat sempurnanya akan menghilang seiring pergantian fase.

Begitu pula semua yang kita nikmati dalam kehidupan. Semua adalah fatamorgana yang disajikan ruang nyata yang disebut peradaban. Segala semu fatamorgana itu lantas menjadi bagian kita dalam mengapresiasi setiap nafas kehidupan. Semu itu akan berubah menjadi nyata saat kita menyadari bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Seperti halnya cahaya bulan yang akan redup, begitu pula kehidupan yang bisa terenggut. Sama halnya ketika mendung menutupi langit sehingga bulan enggan muncul, begitu pula saat sakit merenggut kebebasan gerak sehatmu.
Hidup ini hanya sementara, semua yang kita miliki akan hilang pada saatnya. Waktu selalu berlari, tak akan pernah kembali dan tak akan pernah menunggumu. Sebelum sampai pada waktumu untuk berhenti, lakukanlah yang terbaik yang bisa kau berikan dengan nyata, agar hidupmu tidak sia-sia. Perjuangkan mimpimu sekuat yang kau mampu, karena dunia terus berputar dalam sekejap mata.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Desember (tidak) Kelabu

Angin dingin meniup mencekam di bulan Desember
Air hujan turun deras dan kejam, hati berdebar
Kuteringat bayangan impian di malam itu
Malam yang kelabu, kau ucapkan kata selamat tinggal, sayang..

Sepotong bait dari lagu Desember Kelabu yang dipopulerkan Yuni Shara tersebut rasanya tepat benar menggambarkan keadaan saya beberapa waktu lalu. Sejak awal bulan Desember, saya selalu berharap semoga bulan ini cepat berlalu. Bahkan status akun-akun jejaring sosial saya juga dipenuhi dengan kalimat ‘Desember cepatlah berlalu’.

Ya, Desember memang penuh cobaan buat saya. Mulai dari diselingkuhin (mantan) pacar yang sudah dipacari hampir lima tahun, Skripsi yang tidak disetujui untuk ikut sidang, tugas kuliah yang bertumpuk, jadwal UAS yang berbarengan dengan jadwal sidang skripsi, sampai masalah keuangan yang mampet. Huff, benar-benar menguras tenaga dan pikiran. Berat badan sampai turun tujuh kilogram karena tidak nafsu makan, lingkar mata panda membesar karena kurang tidur, penyakit juga mampir terus ke badan saya. Sepanjang minggu-minggu awal Desember ini, rasanya sulit bernafas dengan tenang. Beruntung saya memiliki banyak teman yang selalu mendukung dan mengingatkan saya bahwa semua ‘kerepotan’ ini akan segera berlalu dan berganti keindahan.

Desember (ternyata) ceria.

Meskipun mendapati kenyataan bahwa (mantan) pacar ~yang minta waktu untuk berpikir tenang dengan alasan sedang banyak masalah~ ternyata malah selingkuh, saya tidak lantas berduka. Saya malah bersyukur doa saya dijawab oleh Allah. Saya berdoa agar Allah memberikan jodoh yang terbaik buat saya, yang mampu membimbing saya dunia dan akhirat. Allah pun menunjukkan bahwa dia bukanlah orangnya.
Setelah skripsi saya sempat ditolak untuk ikut sidang skripsi, saya jadi tertantang untuk memerbaikinya sebaik mungkin. Saya disadarkan bahwa sebelumnya saya hanya mengerjakan skripsi itu dengan asal-asalan. Kini, hasil kerja keras saya bisa saya nikmati karena saya berhasil lulus dalam sidang skripsi 23 Desember lalu. Itu berarti, gelar Sarjana Sosial tinggal sedikit lagi bisa saya raih.
Dengan lulusnya saya dari sidang skripsi, maka saya bisa lebih tenang menjalani ujian akhir semester selama dua minggu terakhir di bulan Desember ini. Teman-teman pun turut membantu belajar dan mengerjakan tugas kuliah bersama-sama.
Saat keuangan menipis karena pengeluaran untuk biaya skripsi yang cukup besar, tiba-tiba ada pekerjaan tambahan yang cukup menghasilkan.

Allah tidak pernah memberikan cobaan kepada manusia, di luar batas kemampuannya.
Saya menyadari betul hal itu. Asal kita ikhlas dalam menerima cobaan sambil tetap berusaha dan berikhtiar, Allah akan menunjukkan jalanNya.

Desember hampir usai, waktunya mengucapkan ‘Januari, cepatlah menghampiri’. Saya percaya, Allah punya rencana lebih baik untuk saya dan kita semua di tahun depan.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Rindu untuk Ibu

Ibu

Saat saya masih seorang anak kecil ingusan..
Ibu selalu mengajari pentingnya beribadah, berdoa dan mengaji. Ibu selalu menguncir rambut panjang saya dan merawatnya dengan ramuan alami buatannya. Ibu selalu menunggui saya pulang sekolah lalu menemani saya makan sambil mendengarkan cerita tentang pengalaman saya di sekolah. Ibu membantu saya mengerjakan PR tanpa mengeluh. Ibu mengajari saya cara menghormati dan menghargai orang lain. Ibu selalu mengingatkan saya untuk bersikap sopan dan rendah hati. Ibu selalu mengisi hati dan kepala saya dengan ilmu dan budi pekerti baik.

Saat saya remaja..
Ibu selalu menunggu saya pulang meskipun larut malam. Ibu tidak akan tidur sebelum saya tidur nyenyak. Ibu selalu tersenyum meskipun saya marah dan memaki. Ibu selalu mendengarkan saat saya berkeluh kesah. Ibu akan membelai lembut rambut saya saat saya bersedih. Ibu masih mengingatkan saya untuk selalu beribadah, berdoa dan mengaji. Ibu masih mengisi hati dan kepala saya dengan ilmu dan budi pekerti baik.

Saat saya dewasa..
Tubuhnya yang renta sudah tak mampu mengawasi saya seperti dulu, tapi semangatnya tak pernah pudar. Ibu, meskipun jauh, tetap mengingatkan saya untuk rajin beribadah, berdoa dan mengaji. Ibu, meskipun jauh, masih setia mendengarkan keluh kesah saya. Ibu, meskipun jauh, masih tetap menyayangi dan mengasihi saya seperti dulu. Ibu terus mengisi hati dan kepala saya dengan ilmu dan budi pekerti baik

Ibu, wanita paling hebat sedunia
Selalu tersenyum apapun suasana hatinya
Selalu sabar dan pemaaf
Selalu penuh dukungan dan perhatian

Selamat hari Ibu..
Ibu, terima kasih untuk semua kasih sayang dan cinta.
Ayuk wulan sangat rindu Ibu 😥

Posted with WordPress for BlackBerry.

Sepotong Kisah

Kelam dan angin malam mempesiang diriku
menggigil juga ruang di mana dia yang kuingin
Malam bertambah merasuk, rimba jadi semati di tugu di Karet,
di Karet (daerahku yang akan datang)
sampai juga deru angin…

“Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing…”

“Tapi kau terus mencariku, karena aku tidak pernah berhasil kau miliki sepenuhnya dan tidak sanggup berpaling?”

“Kupilih kau dari yang banyak, tapi sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring…”

“Kau sangat sekali menginginkan aku?”

“Ya”

“Aku pernah ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,
Kita berpeluk ciuman tiada jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan…

Rasanya bulan di atas itu seolah mau memberi tahu, saatnya kini tiba, kau dan hidupmu akan menyatu dalam hidupku…”

“Jangan!
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tidak bisa lama bersama
Ini juga kutulis di kapal,
di laut tidak bernama!”


Yang terampas dan yang putus…
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
Malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu.


di Karet, di Karet (daerahku yang akan datang) sampai juga deru angin
Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu,
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang.
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

Dari ‘AKU’, perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar oleh Sjuman Djaya

Posted with WordPress for BlackBerry.

Dan..

Dan..

Dan jika tak harus pergi
Maka tinggallah
Ada tempat yang disebut rumah

Dan jika langkahmu tertahan
Maka pergilah
Ada mimpi yang harus dibagi

Dan
Dan jika jalanmu salah
Jangan pernah kembali
Sudah terlambat bila disesali

Posted with WordPress for BlackBerry.